Selasa, 07 Februari 2012

Rabiul Awal: Kelahiran Manusia Utama

Rabiul Awal: Bulan Kelahiran Manusia Paling Utama

Dalam bagian pertama, kita telah membahas tentang keutama'an bulan Rabi'ul Awal, dan telah menceritakan bagaimana Rasulullah SAW dilahirkan di bulan Rabi'ul Awal dan alasan dilahirkannya Rasulullah SAW di bulan ini. Ini adalah kejadian penting pertama yang kita telah kita bahas, sedangkan kejadian penting kedua di bulan Rabi'ul Awal ini adalah wafatnya Rasulullah SAW.


2. Wafatnya Rasulullah SAW.

Tiada kesedihan di dunia ini yang lebih mengiris hati seorang mukmin, dari pada hari perginya sang mahbub dari dunia ini. Tiada rasa sakit yang lebih mengiris hati, melebihi rasa sakitnya berpisah dengan sang mahbub. Tiada yang dapat menandingi rasa cinta Rasulullah SAW kepada kita umatnya, hingga membuat kita wajib mencintainya. Sungguh cerita wafatnya Rasul adalah cerita yang sangat menyedihkan. Dalam sebuah Hadist disebutkan:

من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم جلس على المنبر فقال : إن عبدا خيره الله بين أن يؤتيه من زهرة الدنيا ما شاء و بين ما عنده فاختار ما عنده فبكى أبو بكر و قال : يا رسول الله فديناك بآبائنا و أمهاتنا قال : فعجبنا و قال الناس : انظروا إلى هذا الشيخ يخبر رسول الله صلى الله عليه و سلم عن عبد خيره الله بين أن يؤتيه من زهرة الدنيا ما شاء و بين ما عند الله و هو يقول : فديناك بآبائنا و أمهاتنا قال : فكان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو المخير و كان أبو بكر هو أعلمنا به فقال النبي صلى الله عليه و سلم : إن من آمن الناس علي في صحبته و ماله أبو بكر و لو اتخذت من أهل الأرض خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا و لكن إخوة الإسلام لا تبقى في المسجد خوخة إلا سدت إلا خوخة أبي بكر رضي الله عنه ]

Yang artinya sebagai berikut: Dari Abi sa'id Alkhidhri bahwa Rasulullah SAW duduk di sebuah mimbar dan bersabda: "Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah SWT antara diberi segala hiasan dunia yang dia inginkan atau memilih apa yang dia miliki, dan dipun memilih apa yang dia miliki ". Abu bakar As-Syiddik-pun menangis, dan berkata: "Wahai Rasulullah SAW! kita rela mengorbankan Bapak serta ibu kami demi engkau, wahai Rasulullah SAW! Abu sa'id berkata: "Maka kita heran, dan orang-orang-pun berkata: "Lihatlah kepada orang tua ini?" Rasulullah SAW memberitahu tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara diberi seluruh perhiasan dunia atau mengembalikan apa yang dia miliki, kemudian diapun memilih apa yang dia miliki, kemudian orang tua itu berkata: "Kita telah mengorbankan Bapak dan Ibu kami demi engkau wahai Rasulullah SAW!.

Sungguh hanya Abu Bakarlah yang paling memahami perkata'an Rasulullah SAW, sehingga Rasulullahpun bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan apa yang dia miliki baik harta atau persahabatannya kepadaku adalah Abu Bakar As-sidik, dan seandainya aku memilih kekasih di dunia ini, niscaya aku akan jadikan Abu bakar As-shiddik sebagai kekasihku, akan tetapi ukhuwah islami, tidak ada satupun masjid yang rusak kecuali dia benarkan, sedangkan dia membiarkan rumahnya sendiridalam keada'an rusak ".
Kematian adalah sesutu yang telah tertulis kepada semua benda hidup di dunia ini baik pada para Nabi atau para Rasul atau yang lainnya. Allah SWT berfirman dalam sebuah Ayat:

 ( إنك لميت وهم ميتون )

"Sesungguhnya kamu akan mati dan juga mereka akan mati".

Dan juga :

 (وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ )[ الأنبياء: 34].

"Kami tidakmenjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati apakah mereka akan kekal?" QS Al Anbiya': 34

Allah SWT menciptakan Adam AS dari debu yang ada di bumi, kemudian ditiuplah disitu Rohnya, dan beradalah rohnya dalam jasadnya, dan juga arwah anak cucunya dalam jasad mereka. Adanya roh mereka dalam jasad di dunia ini adalah sebagai barang pinjaman. Mereka diperintahkan agar mengembalikan arwah-arwah mereka kembali dari jasad  mereka, serta  mengembalikan jasad mereka kepada apa yang dari itu diciptakan yaitu debu. Allah SWT juga berjanji akan mengembalikan lagi jasad mereka dari bumi, kemudian mengembalikannya  lagi  arwah mereka kepada jasad dengan kepemilikan yang abadi dan selama-lamanya di akherat nanti. Allah SWT berfirman:

( فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ ) [الأعراف:25]

"Di Bumi itu kamu hidup dan dibumi itu kamu mati, dan dari bumi itu pula kamu akan dibangkitkan".QS Al-a'raf: 25.

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى [طه:55]

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeuarkan kamu pada kali yang lain". QS Thaha : 55.

Karena kematian merupakan sesuatu yang dibenci secara tabiat, dimana disitu terdapat kekerasan dan kekejaman yang sangatlah menakutkan, maka para Nabi tidak akan mati sebelum disuruh memilih oleh Allah SWT, oleh karena itu terjadilah taraddud (keragu-raguan) dalam diri setiap mu'min. Rasulullah SAW bersabda: "Aku tidak pernah ragu-ragu seperti keraguanku dalam pencabutan nyawa seorang mu'min yang membenci kematian, sedang aku membenci hal tersebut dan setiap orang mu'min haruslah mengalaminya".

Pertama kali Allah memberi tahu Rasul-Nya bahwa dia akan menemui ajalnya adalah turunnya surat: (إذا جاء نصر الله والفتح ...الخ) , dikatakan kepada ibnu Abbas: "Apakah Rasulullah SAW tahu bahwa beliau akan meningal? Dia menjawab: "Ya" dan dari mana beliau tahu : "Dari turunya  surat  ( إذا جاء نصر الله والفتح ) yakni: Fathu makah. Sesungguhnya maksud dari surat ini adalah: "Sesungguhnya kamu wahai Muhammad, jika Allah SWT membukakan Makkah kepadamu, dan orang-orang telah masuk agamamu, maka telah dekatlah ajalmu, maka bersiaplah untuk bertemu dengan tuhanmu dengan beristighfar dan bertahmid, dan mulai dari sa'at itu Rasulullah SAW bertambah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tatkala rasa sakit yang ada dalam diri Rasulullah bertambah parah di malam senin, Sayidah Aisyah pergi menuju rumah seorang wanita dengan membawa sebuah lampu, untuk meminta setetes minyak samin, karena Rasulullah SAW sedang mengalami sakaratul maut. Kemudian Sayidah Fatimahpun datang menuju kamar dimana Rasulullah sedang sakit, Rasulpun membisikinya tentang sesuatu kemudian dia menangis, dan membisikinya kedua  kali dan diapun tertawa, ketika ditanya: "Apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu?" dia menjawab: "Aku tidak akan membocorkan rahasia Rasulullah SAW". Ketika Rasul meninggal dia ditanya dan menjawab: "Pertama kali Rasul bilang bahwa beliau akan meninggal pada sakitnya ini, kemudian aku menangis, dan yang kedua Rasul memberitahuku bahwa akulah yang pertama kali menemuinya, maka akupun tertawa".

Ketika tiga hari sebelum ajal Rasulullah SAW datang, malaikat Jibril datang dengan membawa Malaikat maut untuk meminta izin kepada Rasul: "Wahai Ahmad!  sesungguhnya Allah SWT telah mengutusku untuk bertanya padamu - sedang Dia lebih tahu tentang kamu- bagimana keadaanmu sekarang, Rasulullah menjawab: "Keada'anku wahai Jibril telah taksadar, dan aku merasa takut". Kemudian di hari yang kedua malaikat Jibril datang lagi kemudian bertanya seperti di atas, Rasulullahpun menjawab seperti jawabanya pertama kali. Kemudian datang lagi di hari yang ke tiga, dan bertanya kepadanya seperti tadi, kemudian malaikat maut meminta izin kepada Rasulullah SAW, dan Jibril berkata: "Wahai Ahmad ini malaikat maut telah datang untuk meminta ijin kepadamu, dia tidak pernah meminta ijin kepada seorangpun sebelum dan sesudahmu. Rasulullah menjawab: "Berilah dia ijin wahai Jibril". Kemudian malaikat mautpun masuk dan berdiri di depan Rasulullah SAW dan berkata: "Wahai  Rasulullah SAW, wahai Ahmad! Sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk datang kepadamu dan memerintahkanku untuk menta'ati semua perintahmu; jika kamu memerintahkanku untuk mengambil nyawamu maka akan aku ambil, akan tetapi jika kamu memerintahku untuk meninggalkanmu maka aku akan meninggalkanmu. Rasul bersabda: "Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah SWT kepadamu wahai malaikat maut".

Malaikat Jibril berkata: "Wahai Ahmad! Sesungguhnya Allah SWT telah merindukanmu. Rasulullahpun berkata: "Lakukanlah wahai malaikat maut apa yang di perintahkan?", kemudian malaikat Jibril berkata: "Assalamu 'alaika ya Rasulallah, ini adalah terakhir kali aku menginjak bumi ini, sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia ini. Kemudian datanglah ta'ziyah dari Jibril dengan kata:

 " السلام عليكم يا أهل البيت ورحمة الله وبركاته ( كل نقس ذائقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة ).

Malaikat mautpun menjalan tugas yang diperintahkan Allah SWT untuk mengambil kembali nyawa Rasulullah, dengan pelan-pelan. Sehingga Rasulullahpun menghembuskan nafasnya yang terahir kali, sembari berkata " Ummati…Ummati…Ummati…"(Ummatku…Umatku…Umatku..)

Adapun hari wafatnya Rasulullah itu adalah hari senin di bulan Rabi'ul Awal. Telah terbuka rahasia di hari itu sedang orang-orang sedang shalat subuh di belakang Abu Bakar As-shiddik. Orang-orang hampir tertipu oleh kesenangan mereka karena melihat Rasulullah SAW telah sadarkan diri di pagi itu, dan melihat wajahnya bagaikan lembaran Al-Qur'an. Mereka menyangka bahwa beliau akan shalat bersama mereka. Kemudian Rasulullah memberi isyarat untuk mereka agar tetap  di tempatnya, kemudian Rasulullahpun menutup satir.

Rasulullah SAW meninggal di hari itu sedang orang-orang menyangka bahwa beliau telah sembuh dari sakitnya, ketika telah sadarkan diri di pagi hari senin. Akan tetapi ketika matahari telah naik di pagi itu, meninggallah Rasulullah SAW. Kaum musliminpun tampak kebingungan; ada yang tercengang karena kaget, ada yang terduduk dan tak dapat berdiri, ada yang lidahnya tersentak hingga tidak dapat berkata sepatah katapun, ada yang mengingkari kematian Rasulullah SAW, yaitu Umar RA. Ketika sampai kabar kepada Abu Bakar RA, dia langsung menuju rumah Aisyah RA, kemudian membuka kain yang ada diwajah Rasulullah SAW, dan menciumnya berkali-kali sedangkan dia dalam keada'an menangis, kemudian dia  berkata: "Waa...nabiyyaah...Wa...khaliilaah...Waa...shofiyyaah" dan berkata: "Inna lillahi wa Inna Ilaihi Raaji'un. Demi Allah... Rasulullah SAW telah mati...". Kemudian berkata: "Demi Allah SWT, Allah tidak akan mengumpulkanmu dalam dua kematian, adapun kematian yang pertama kamu sudah mengalaminya".

Kemudian Abu bakarpun masuk ke masjid -sedang Umar RA berbicara dengan orang-orang yang sedang berkumpul di depannya-. Abu Bakarpun mulai berbicara kepada mereka dengan membaca syahadat dan membaca hamdalah, lalu orang-orangpun menuju kepadanya dan meninggalkan Umar. Abu bakar berkata: "Barang siapa menyembah Muhammad SAW, maka sesungguhnya Muhammad SAW telah mati, dan barang siapa menyembah Allah SWT, maka Allah SWT tidak akan mati selamanya", kemudian dia membaca:

(وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ)[آل عمران : 144].

"Muhammad itu tidak lain Hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (murtad)?". QS Ali Imran: 144.

Abu Bakarpun dapat membuat mereka yakin bahwa Rasulullah SAW benar-benar telah meninggal dunia, se'akan-akan mereka tidak pernah mendengarkan ayat ini sebelum Abu Bakar membacanya, kemudian merekapun mengikuti bacaan Abu Bakar RA.

Itulah kisah meninggalnya Rasulullah SAW, hari dimana semua kaum muslimin merasa sedih. Karena kembalinya sang Qurratul 'ain kepada Allah SWT.

Amalan Kaum Muslim di Bulan Rabi'ul Awal

Di bulan ini setiap Muslim disunahkan untuk memperbanyak shalawat serta salam untuk Rasulullah SAW. Karena di bulan yang mulia ini telah tampak kebaikan yang merata kepada seluruh alam, telah tampak pula kebahagia'an orang-orang yang paling bahagia dengan terbitnya bulan penerang bumi, yaitu lahirnya Nabi Muhammad SAW di dunia ini. dengan lahirnya Rasulullah di bulan ini, dikenanglah bulan Rabi'ul Awal sebagai hari yang paling penting bagi umat islam, oleh karena itu bulan ini dijadikan sebagai hari berkumpulnya umat islam untuk mendengarkan kisah kelahiran Rasulul islam yang sangat mulia, agar mereka memperoleh barakah dan keutama'an yang suci.

Umat islam selalu memperingati bulan kelahirannya, sehingga mengadakan walimah, dan menyedekahkan sebagian hartanya kepada saudaranya yang membutuhkan dalam bentuk apapun, mereka juga menampakkan kegembira'an mereka karena terlahirnya Rasulullah SAW, mereka selalu memperhatikan kisah kelahirannya, dengan penuh kekhusyu'an dan penghayatan, sehingga barakah Rasulullah SAW-pun menyelimuti hati mereka, sehingga membuat hati mereka tenteram dan tenang.

Mengapa kita memperingati Maulid Nabi SAW?

Mungkin pertanya'an ini adalah pertanya'an yang jarang sekali didengar di kalangan orang-orang yang sudah terbiasa melakukan kegiatan maulid Nabi di hari-hari yang agung seperti hari jum'at contohnya, atau hari yang ke dua belas dari bulan Rabi'ul Awal. Ini merupakan suatu adat yang sangatlah di dukung oleh syare'at bagi hamba Allah yang sangat mencintai Rasulnya, sebagai ungkapan rasa cinta dan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang berupa lahirnya sang penerang dunia. Akan tetapi sebagian orang mengatakan bahwa hal ini merupakan hal yang tidak dilakukan oleh ulama' salaf. Mungkin dengan pernyata'an ini kita terpaksa harus menyebutkan dalil kebolehan memperingati acara maulid Nabi. Akan tetapi sebelum kita menyebutkan dalil-dalil akan dibolehkannya maulid maka kita perlu mengetahui hal-hal berikut ini:

1. Kita mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi adalah perbuatan yang dibolehkan oleh syari'at, dari berbagai perkumpulan untuk mendengarkan sejarahnya Rasul SAW, mendengarkan puji-pujian yang diucapkan untuk beliau, memberikan makanan, serta memberikan kegembira'an untuk semua umat islam.

2. Kita tidak mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi disunahkan di waktu tertentu atau di malam tertentu, akan tetapi barang siapa yang meyakini hal tersebut maka telah mengada-ngada di dalam agama (melakukan perbuatan bid'ah). Karena kita wajib mengingatnya di setiap waktu. Akan tetapi di bulan kelahirannya yaitu bulan Rabi'ul Awal, seorang muslim lebih ditekankan untuk mengingat beliau, sehingga orang-orang bersemangat untuk menyambutnya serta berkumpul untuk mengingatnya dan merasakan keagungan karena kita menjadi lebih dekat dengan sejarah. Maka mereka akan mengingat suatu yang sudah lampau dengan cara melaksanakannya sesuai dengan adat jaman sekarang.

Adapun dalil kebolehannya mengadakan peringatan maulid Nabi SAW adalah sbb:

1. Peringatan maulid Nabi adalah sebagai ungkapan atas rasa kesenangan dan kegembira'an atas Rasulullah SAW, sebagai mana orang kafir telah mengambil manfa'atnya.

Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Abu lahab diringankan dari siksa'annya di setiap hari senin sebab dia telah memerdekakan budaknya yang bernama tsuwaibah ketika mendapat kabar gembira bahwa Muhammad SAW telah lahir.

Al-Hafidz Ad-Dimisyqi mengatakan: "Jika ini adalah seorang kafir yang telah dicela oleh Al-Qur'an dengan kata "Tabbat yadaa Abii Lahabin Wa tabb"  yang telah dimasukkan di neraka untuk selamanya, telah ada sabda bahwa dia diringankan dari siksa'annya disetiap hari senin karena kegembira'annya atas lahirnya Muhammad SAW, maka apa prasangka seorang Mukmin yang dimana seluruh umurnya senang dengan Rasulullah SAW serta mati dalam ke'adaan Islam?".

2. Rasulullah SAW telah memuliyakan hari kelahirannya, dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya yang sangat besar kepadanya, dan telah mengutamakannya sebagi makhluk yang paling utama di dunia, karena semua yang ada di dunia ini telah gembira karenanya. Beliau mengungkapkan kegembira'an tersebut dengan berpuasa di bulan itu. Seperti yang disebutkan dalam Hadist oleh Abi Qatadah RA: "Rasulullah SAW ditanya tentang puasanya di hari senin?" dan Rasul menjawab: "Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu pula Allah menurunkan wahyu kepadaku".

Ini adalah makna dari peringatan maulid nabi, cuma gambar atau caranya saja yang berbeda. Akan tetapi makna ini tetap ada, baik dengan cara berpuasa atau membagikan makanan atau berkumpul dengan tujuan berdzikir atau membaca shalawat kepada Nabi SAW, atau dengan mendengarkan syama'ailnya Rasulullah SAW.

3. Gembira dan senang dengan adanya Rasulullah SAW adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Al-Qur'an, yaitu firman Allah SWT:
 
( قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ )[يونس:58]

" Katakanlah dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya , hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Allah SWT telah memerintahkan kita untuk bergembira atas rahmat yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah rahmat yang paling mulia dan yang paling besar bagi kita. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

" وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين )[الأنبياء:107].

" Kita tidak mengutusmu kecuali sebagi rahmat bagi semua yang ada dialam semesta".

Maka kita wajib untuk bergembira atas datangnya rahmat tersebut.   

4. Peringatan maulid Nabi adalah perbuatan yang tidak ada di zaman Rasul SAW, maka hal tersebut adalah bid'ah akan tetapi bid'ah hasanah. Karena perbuatan ini mempunyai landasan syara', serta berada dibawah naungan qowa'id kulliyah (asas yang mencakup semuanya). Maka hal ini adalah bid'ah dari segi perkumpulannya, tidak dari segi perorangannya.

Mungkin dalil-dalil ini sudahlah cukup sebagai jawaban atas pertanya'an diatas. Yang paling penting bagi seorang muslim adalah memperbanyak shalawat atas nabi Muhammad SAW di bulan ini. Karena salawat ini sendiri mempunyai keutama'an yang paling besar. Karena Allah SWT akan tetap menerima shalawat seseorang meskipun dalam ke'ada'an lalai. Barang siapa membaca shalawat kepada nabi SAW, maka shalawat tersebut akan diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Hadist: "Bershalawatlah kepadaku? Karena sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku". Lain lagi dengan dzikir-dzikir yang lain, karena dzikir-dzikir yang lain membutuhkan kekhusyu'an agar dzikir-dzikir tersebut di terima oleh Allah SWT. Masih banyak lagi keutama'an shalawat kepada nabi.

Adapun shalawat yang paling afdhal yang hendaknya kaum muslimin membiasakannya adalah shalawat Al-Ibrahimiyah, yaitu :

اللهم صلى على سيدنا محمد ، وعلى آله سيدنا محمد ، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم ، وباركعلى سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمدكما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم ، في العالمين إنك حميد مجيد .

Sabtu, 12 Maret 2011

Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor - Gurauannya Disukai Nabi S'AW


Terik matahari memanggang kota Makkah. Masjidil Haram tengah disesaki jamaah haji. Hari itu Jumat. Seorang khatib berdiri di atas mimbar. Ia membacakan sebuah khutbah yang teramat panjang.

Lama sekali sang Khatib berkhutbah. Jamaah tersiksa oleh sengatan siang. Maklum,,,saat itu bertepatan musim panas. Keringat bercucuran deras. Usai khutbah,,,sang Khatib mengimami sholat. Anehnya,,,,sholat kali ini dilakukan dengan sangat cepat. Surat yg ia pakai pun yang pendek2.

Setelah salam,,,seorang jamaah menghampiri khatib. Namanya Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor. Tangannya menggenggam sebatang tongkat. Lalu tanpa diduga,,,sang habib menggebuk khatib dengan tongkat sembari berkata-kata lantang,,,"Kamu telah membolak-balik sunnah Rasulullah S'AW. Mestinya kamu meringkas khotbah dan memanjangkan sholat." Khatib itu berteriak kesakitan. "Hai orang-orang,,,aku dipukuli seorang Hadrami...! Habib Ahmad menimpali,,,"Aku bukan Hadrami," ia lalu bersenandung,,,"Kami mengenal Batha'(sebuah daerah di Makkah) dan ia mengenal kami. Bukit Shafa dan Baitullah (Ka'bah) mencintai kami.

Kota Makkah geger. Sang Amir,,,,Syarif Muhammad bin Awan geram. Diperintahkannya polisi untuk menangkap Habib Ahmad dan menghukumnya di depan khalayak. Keresahan melanda warga Hadrami. Mereka mengkhawatirkan nasib habib tercinta itu. "Tak usah khawatir! Ibundaku,,,Khadijah binti Khuwailid,,,selalu bersamaku," ujar Habib Ahmad menenangkan. "Aku akan berlindung di tempatnya," lanjutnya.

Saat itu juga ia bergegas ke kubah Sayidah Khadijah R.'A,,,istri mulia baginda Nabi S'AW. Sepasukan aparat keamanan mengejar di belakangnya. Sesampai di depan kubah,,,peristiwa ajaib terjadi,,,pintu kubah terbuka dengan sendirinya. Habib Ahmad masuk,,,dan pintu itu tertutup kembali. Para aparat b'usaha membuka,,,namun tak kuasa.

Mereka menemui juru kunci kubah dan meminta kunci. Namun ia enggan menyerahkan. "Takkan kuberikan kunci ini kepada siapa pun." Akhirnya dengan luapan amarah,,,mereka mengambil secara paksa. Berbekal kunci itu,,,mereka berhasil membuka pintu kubah. Tapi ajaib,,,Habib Ahmad tak kelihatan batang hidungnya. Mereka mencari-cari,,,namun hasilnya nihil,,,ia seperti raib di perut bumi.

Para abdi praja itu akhirnya menyerah. Mereka melapor pada Syarif Muhammad perihal kejadian luar biasa itu. Syarif merasa takjub. Ia kemudian menanyai warga Hadrami mengenai siapa sebenarnya Habib Ahmad. Ketakjubannya kian membumbung kala mengetahui kesejatian sosok Habib yang alim itu.

Penguasa Makkah itu kemudian mengadakan jamuan istimewa utk Habib Ahmad sbg tanda maaf. Sang Habib menyambut hangat. Di tengah jamuan itu,,,,Syarif Muhammad membujuk Habib Ahmad agar bersedia menetap di Makkah. Habib Ahmad tidak langsung menjawab ya ataupun tidak. "Aku tanyakan dulu kepada ibundaku,,,Khadijah Al-Kubra." katanya. Beberapa hari kemudian,,,ia mendatangi Syarif dan memberi kabar,,,"maaf Amir,,,,Ibunda Khadijah menghendaki aku untuk kembali ke Quwereh." Peristiwa itu terjadi pada musim haji tahun 1250 Hijriyah.

Habib Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Muhdor lahir di kota Rasyid,,,Lembah Dau'an, Hadramaut,,,thn 1217 Hijriyah. Saat masih kanak2,,,ia diboyong ayahnya ke Haramain. Di sana ia berhasil menghafal AlQuranul Karim dalam usia tujuh tahun dg bacaan yg bagus. Ia kemudian menekuni berbagai bidang pengetahuan. Di antara guru2nya di Makkah adalah: Syekh Umar bin A. al-Attar,,,Syekh Muhammad Sholeh ar-Rais,,,Syekh Ahmad as-Showi al-Mishri dan Syekh Abdur-Rahman al-Kazbaniy.

Setelah bekal ilmunya lumayan mumpuni,,,ia mulai sering diajak mondar-mandir antara Makkah & Hadramaut oleh ayahnya. Ketika singgah di Hadramaut,,,,ia menyempatkan diri menimba ilmu kpd ulama2 besar di sana,,,,spt Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr,,,Habib Abu Bakar bin Abdullah al-attas,,,,Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith,,,Habib Abdullah bin Idrus al-Barr,,,dan Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan.

Menginjak usia dewasa,,,ia memutuskan kembali ke kota Rasyid. Ia menempati rumah salah satu paman dari pihak ibunya yg merupakan keluarga besar marga Bazar'ah. Ia kemudian menikah dg seorang wanita sholehah dari keluarga al-Habsyi. Dari pernikahan ini ia dikaruniai putra & putri bernama Umar,,,,,Hamid,,,Hadun,,,Khadijah,,,dan lainnya. Selanjutnya,,,,setelah memiliki uang cukup,,,ia membeli sebuah rumah di daerah Quwereh. Di kota itu ia menikah lagi dengan wanita dari keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim-setelah istri pertamanya meninggal dunia.Pernikahan ke-2 ini membuahkan beberapa putra & putri,,,,di antaranya: Muhammad,,,Musthafa,,,dan Sholeh.

Dari kota inilah,,,,nama Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor terus menjulang. Cahaya ilmu dan akhlaknya menerangi negeri Hadramaut,,,bahkan seluruh persada bumi. Ia dicintai kaum muslimin. Kalam2nya mudah diterima lubuk hati. Dan tersingkaplah nurbuwat yg pernah ditorehkan Syekh Umar Bamakhramah.

Ya,,,beratus tahun sebelumnya,,,Syekh Umar menulis untaian syair yg mengilustrasikan sosok Habib Ahmad al-Muhdor. Dilukiskannya perangai Habib Ahmad beserta tempat2 yg pernah ia singgahi. Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr,,,salah satu guru Habib Ahmad,,,ketika membaca syair itu,,,ia berseru kepada orang-orang sekitarnya, "Katakan kepada Ahmad al-Muhdor bahwa Syekh Bamakhramah mengajaknya bicara.

Selain berilmu tinggi,,,,Habib Ahmad dikenal keras dalam mujahadah. Jauh hari,,,,ia telah menyiapkan liang kuburnya sendiri yg ditempatkan di sebelah masjidnya. Ia meluangkan waktu berbaring di liang itu setiap hari sembari membaca Al-Quran. Tercatat tujuh ribu kali khataman ia selesaikan di dalam kubur itu sebelum akhirnya meninggal dunia. Namun ia pribadi yang unik. Di balik kekhusyukannya itu,,,ia selalu menampakkan diri sebagai sosok jenaka. Ia suka bergurau. Gurauannya bahkan kadang keterlaluan. Pernah ia menyesal dan berniat takkan bergurau lagi,,,akan tetapi ia langsung ditegur Rasulullah S'AW dalam mimpi agar meneruskan kebiasaannya bergurau.

Hati Habib Ahmad memiliki pertautan yg erat dengan Ummul Mukminin,,,Khadijah al-Kubra. Ia menulis kumpulan syair yg memuji ibunda az-Zahra itu. Hikayat di atas adalah salah satu bukti. Dan akhirnya ia menyusul ibundanya itu pada tahun 1304 H,,,dalam usia 87 tahun. Ia meninggalkan beberapa putra yg sholeh. Salah satunya adalah Habib Muhammad al-Muhdor, Bondowoso, seorang ulama yg pernah meramaikan blantika dakwah di nusantara ini. Ia juga meninggalkan beberapa murid yang hebat. Di antaranya: Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi.

SIFAT-SIFAT WANITA DI TARIM HADHRAMAUT YAMA N SELATAN

Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa

Mengenai wanita di kota Tarim Hadramaut itu, jauh berbeda dengan sebagian besar wanita wanita muslimah di dunia,
bahkan di wilayah wilayah lain di kota kota yang juga di Hadramaut pun sudah banyak yang pudar ketegasan syariahnya, wanita-wanita Tarim itu terbiasa dari sejak kecil dibesarkan di lingkungan ulama, siang malam mereka adalah obrolan majelis ilmu, alqur’an, adab, akhlak, tasawwuf, demikian mereka dibesarkan, mereka dibesarkan tidak kenal musik, tidak kenal kebiadaban, tidak kenal wajah orang fasiq, bahkan para wanitanya itu tidak pernah melihat lelaki selain kakaknya dan pamannya.


Saat mereka menikah, ketika ditanya pada istri “apa sih kesannya saat awal berjumpa?” ia menjawab : “saya bingung, seumur hidup saya belum pernah melihat lelaki selain kakak kandung saya, lalu ini ada lelaki asing duduk di kamar saya.”

Demikian keadaan mereka, mereka tak pernah menyusahkan suaminya, demikian pula suami pada istrinya, bila susu habis misalnya, atau beras, atau apa saja yang perlu dibeli, mereka tak berani bicara pada suaminya, karena takut suaminya sedang tidak ada uang, atau sedang sibuk, maka mereka taruh lah bungkus-bungkus kosong itu kira-kira di tempat yg sekiranya menyolok dan terlihat oleh suaminya.

Demikian pula suami, seluruh hajat pasar, sayur dan lainnya suami yang belanja, istrinya boleh-boleh saja keluar ke pasar kaum wanita, misalnya belanja baju, atau barang barang khusus wanita, kalau urusan dapur, sayur, beras dll itu tugas suami atau pembantu.

Istri selalu membuat kamar tidur wangi, bila suaminya pulang maka pastilah kamar sudah di tata rapih dan sangat wangi, pakaian suami sudah pasti wangi, kamar mandi wangi, semua ditata serapi mungkin.

Istri tak pernah mengangkat suara pada suami, tak pernah marah, tak pernah cemberut, bila mereka kesal mereka menangis dan mengadu pd suaminya dg lirih.. Itulah marah mereka. demikian pula suami, tak pernah marah pd istri, apalagi mencaci, bila sudah sangat kesal atas sesuatu, suami tulis surat pada istri lalu pergi atau tidur, nanti istri menjawab pula, lalu suami menjawab pula, akhirnya keduanya tertawa bersama.

Masih banyak lagi keunikan dan seni budi pekerti muhammad SAW dalam rumah tangga nabawiy yang sulit kita temukan di masa kini.

Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=7&id=1808#1808

http://m.facebook.com/note.php?note_id=132324637252&rb7dbe9f7&refid=21&m_sess=sozHADJA-4iykpkp5&r5caa1cc5#anchor_fbid_132324637252

, ,

Senin, 03 Januari 2011

TABARRUK (MENGGAPAI BERKAH)

Di dalam Islam dibolehkan tabarruk (menggapai berkah) dengan bekas orang-orang saleh. Seorang bijak menyebutkan bahwa hikmah tabaruk dengan bekas orang-orang saleh dan tempat-tempat mereka serta apa-apa yang berhubungan dengan mereka adalah lantaran tempat-tempat mereka berkaitan dengan pakaian mereka, pakaian mereka mencakup badan mereka, badan mereka mencakup hati mereka, dan hati mereka berada dalam kehadiran Tuhan mereka.
Jika Allah melimpahkan berbagai curahan anugerah ketuhanan ke dalam hati mereka, maka keberkahannya menjalar kepada apa-apa yang berkaitan dengannya dan dalam firman Allah SWT, "Samiri berkata 'lalu aku mengambil segenggam dari bekas utusan itu.' (Thaha, 20: 4) Maksudnya dari bekas telapak kaki kuda utusan itu (malaikat) sebagaimana yang dipaparkan dalam sejumlah tafsir. Dalil-dalil tabarruk cukup banyak Di antaranya adalah tabarruk yang dilakukan oleh para sahabat ra dan penggapaian syafaat mereka melalui peninggalan-peninggalan Nabi saw pada saat beliau masih hidup dan setelah beliau wafat. Terkait hal ini terdapat banyak hadis yang kami paparkan sebagiannya secara ringkas sebagai berikut:
Dari Sahl bin Sa'ad ra mengenai kisah pakaian burdah yang dimintanya dari Nabi saw. Saat itu sahabat-sahabatnya mengecamnya, lantaran meminta pakaian burdah tersebut kepada Nabi saw padahal beliau masih memakainya. sahl bin sa'ad ra mengatakan: 'Aku memintanya kepada beliau hanya agar dijadikan sebagai kafanku.' Dalam riwayat lain: 'Aku berharap keberkahannya karena Nabi saw telah mengenakannya, semoga aku dapat dikafani dengannya.' (HR Bukhari)

SYAFA'AT

Syafaat adalah doa pemberi syafaat bagi orang yang diberi syafaat, lantas Allah memperkenankannya lantaran anugerah-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Tentunya syafaat yang demikian adalah dibolehkan sebagaimana firman-Nya:

Dan mereka tidak memberi syafaat (laa yasy-fi'uuna) melainkan kepada orang yang diridhoi (allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (Al-Anbiya, 21: 28)

Dan firman-Nya:
Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhoi." (An-najm, 53: 26)

Adapun syafaat yang digugurkan oleh Al-Quran adalah syafaat yang mengandung kesyirikan yang diyakini oleh kaum musyrikin pada tuhan-tuhan mereka. Yaitu syafaat yang tidak diizinkan dan tidak diridhoi oleh Allah SWT. Mereka berpandangan bahwa syafaat tuhan-tuhan mereka diterima dan tidak ditolak serta tidak tergantung pada izin Allah SWT.
Adapun syafaat dengan izin Allah SWT dari hamba-hamba-Nya yang terpilih dan memiliki keutamaan bagi orang-orang yang durhaka namun mereka tetap mengesakan Allah, maka syafaat ini tidaklah dilarang dan meyakini adanya termasuk ajaran agama. Sebab, syafaat ini termasuk doa, sementara Allah SWT memperkenankan doa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta melimpahkan tambahan karunia-Nya kepada mereka.

Sumer:

Seribu Satu Jawaban masalah-maslah Aqidah Islam (terjemahan kitab Ajwibatul Gholiyah), Al-Allamah Al-Faqih Zein bin Ibrahim bin Sumaith, penerjemah Muhammad Ahmad Vadaq, Jakarta,2009)

CIRI-CIRI GOLONGAN AHLI BID'AH

Rasulullah saw telah mendeskripsikan sifat para ahli bid'ah kepada kita bahwa ayat-ayat yang di turunkan pada orang-orang musyrik justru mereka tujukan dan arahkan kepada orang-orang mukmin, seperti firman Allah:

Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan lain di samping (menyembah) Allah. (Qs Asy-Syuraa: 213)
Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah Allah (Al-Jinn: 18)
Sesungguhnya berhala-hala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu."(Al-A'raf: 194)
dan ayat-ayat lain sejenis yang jelas ditujukan kepada o0rang-orang musyrik yang meyakini ketuhanan selain Allah dan kewajiban menyembahnya.
Para ulama berkata: "Perkataan mereka ini semuanya adalah pengelabuan dalam agama dan penyesatan terhadap golongan awam kaum muslimin. Sebab sama sekali tak seorang pun dari orang-orang mukmin yang bertauhid meyakini keyakinan ini, lalu bagaimana bisa mereka menjadikan orang-orang mukmin sama dengan orang-orang musyrik itu? subhanallah! ini adalah fitnah yang besar."
Para ulama telah menyebutkan bahwa kelompok-kelompok yang menyimpang itu tidak memiliki kaedah-kaedah sandaran maupun sedikit madzhab pegangan. Kebanyakan mereka hanyalah para pelajar bodoh yang termasuk kategori awam. mereka bukanlah termasuk orang-orang yang berkompeten dan bukan termasuk ulama Islam.
Untuk membantah para ahli bid'ah itu, tampillah sekelompok ulama sejati yang menasehati karena Allah, rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang mukmin. Mereka menjelaskan hal ihwal dan kesesatan mereka kepada orang-orang, dan mereka telah menyusun banyak kitab mengenai hal tersebut.

Sumber:

SERIBU SATU JAWABAN, Masalah-Masalah Aqidah Islam, Al-Allamah Al-Faqih Zein bin Sumaith, Penerjemah: Muhammad Ahmad Vadaq, Jakarta, 2009

HADIS DHO'IF

Hadits Dhoif adalah hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matannya, mengenai beramal dengan hadits dhaif merupakan hal yang diperbolehkan oleh para Ulama Muhadditsin, Hadits dhoif tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum, namun tak sepantasnya kita menafikan (meniadakan) hadits dhoif, karena hadits dhoif banyak pembagiannya, Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum thaharah. Hadits dhoif ini banyak pembagiannya, sebagian ulama mengklasifikasikannya menjadi 81 bagian, adapula yang menjadikannya 49 bagian dan adapula yang memecahnya dalam 42 bagian, namun para Imam telah menjelaskan kebolehan beramal dengan hadits dhoif bila untuk amal shalih, penyemangat, atau manaqib, inilah pendapat yang mu’tamad, namun tentunya bukanlah hadits dhoif yang telah digolongkan kepada hadits palsu. Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, Batil, maka tidak sepantasnya kita menggolongkan semua hadits dhaif adalah hadits palsu, dan menafikan (menghilangkan) hadits dhaif karena sebagian hadits dhaif masih diakui sebagai ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yang berani menafikan keseluruhannya, karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur. Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku maka hendaknya ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka" (Shahih Bukhari hadits no.110),
Sabda beliau SAW pula : "sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka" (Shahih Bukhari hadits no.1229), Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan / sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw.

Wahai saudaraku ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman Rasulullah saw, ilmu hadits itu adalah Bid'ah hasanah, baru ada sejak Tabi'in, mereka membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yang hilang dan tak dikenal, namun mereka sangat berhati hati karena mereka mengerti hukum, bila mereka salah walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan mereka ini yang dengan ringan saja melecehkan hadits Rasulullah saw. Sebagaimana para pakar hadits bukanlah sebagaimana yang terjadi dimasa kini yang mengaku ngaku sebagai pakar hadits, seorang ahli hadits mestilah telah mencapai derajat Alhafidh, alhafidh dalam para ahli hadits adalah yang telah hafal 100 ribu hadits berikut hukum sanad dan matannya, sedangkan 1 hadits yang bila panjangnya hanya sebaris saja itu bisa menjadi dua halaman bila ditulis berikut hukum sanad dan hukum matannya, lalu bagaimana dengan yang hafal 100 ribu hadits?.

Diatas tingkatan Al Hafidh ini masih adalagi yang disebut Alhujjah, yaitu yang hafal 300 ribu hadits dengan hukum matan dan hukum sanadnya, diatasnya adalagi yang disebut : Hakim, yaitu yang pakar hadits yang sudah melewati derajat Ahafidh dan Alhujjah, dan mereka memahami banyak lagi hadits hadits yang teriwayatkan. (Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar oleh Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Atsqalaniy).

Diatasnya lagi adalah derajat Imam, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1 juta hadits dengan sanad dan matannya, dan Ia adalah murid dari Imam Syafii rahimahullah, dan dizaman itu terdapat ratusan Imam imam pakar hadits.

Perlu diketahui bahwa Imam Syafii ini lahir jauh sebelum Imam Bukhari, Imam Syafii lahir pada th 150 Hijriyah dan wafat pada th 204 Hijriyah, sedangkan Imam Bukhari lahir pada th 194 Hijriyah dan wafat pada 256 Hijriyah, maka sebagaimana sebagian kelompok banyak yang meremehkan Imam syafii, dan menjatuhkan fatwa fatwa Imam syafii dengan berdalilkan shahih Bukhari, maka hal ini salah besar, karena Imam Syafii sudah menjadi Imam sebelum usianya mencapai 40 tahun, maka ia telah menjadi Imam besar sebelum Imam Bukhari lahir ke dunia. Lalu bagaimana dengan saudara saudara kita masa kini yang mengeluarkan fatwa dan pendapat kepada hadits hadits yang diriwayatkan oleh para Imam ini?, mereka menusuk fatwa Imam Syafii, menyalahkan hadits riwayat Imam Imam lainnya, seorang periwayat mengatakan hadits ini dhoif, maka muncul mereka ini memberi fatwa bahwa hadits itu munkar, darimanakah ilmu mereka?, apa yang mereka fahami dari ilmu hadits?, hanya menukil nukil dari beberapa buku saja lalu mereka sudah berani berfatwa, apalagi bila mereka yang hanya menukil dari buku buku terjemah, memang boleh boleh saja dijadikan tambahan pengetahuan, namun buku terjemah ini sangat dhoif bila untuk dijadikan dalil.

Saudara saudaraku yang kumuliakan, kita tak bisa berfatwa dengan buku buku, karena buku tak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu, bukanlah berarti kita tak boleh membaca buku, namun maksud saya bahwa buku yang ada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa fatwa Imam Imam terdahulu, terlebih lagi apabila yang dijadikan rujukan untuk merubuhkan fatwa para imam adalah buku terjemahan. Sungguh buku buku terjemahan itu telah terperangkap dengan pemahaman si penerjemah, maka bila kita bicara misalnya terjemahan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits, lalu berapa luas pemahaman si penerjemah yang ingin menerjemahkan keluasan ilmu Imam Ahmad

dalam terjemahannya? Bagaimana tidak, sungguh sudah sangat banyak hadits hadits yang sirna masa kini, bila kita melihat satu contoh kecil saja, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits, lalu kemana hadits hadits itu?, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad haditsnya hanya tertuliskan hingga hadits no.27.688, maka kira kira 970 ribu hadits yang dihafalnya itu tak sempat ditulis…! Lalu bagaimana dengan ratusan Imam dan Huffadh lainnya?, lalu logika kita, berapa juta hadits yang sirna dan tak sempat tertuliskan?, mengapa?

Tentunya dimasa itu tak semudah sekarang, kitab mereka itu ditulis tangan, bayangkan saja seorang Imam besar yang menghadapi ribuan murid2nya, menghadapi ratusan pertanyaan setiap harinya, banyak beribadah dimalam hari, harus pula menyempatkan waktu menulis hadits dengan pena bulu ayam dengan tinta cair ditengah redupnya cahaya lilin atau lentera, atau hadits hadits itu ditulis oleh murid2nya dengan mungkin 10 hadits yang ia dengar hanya hafal 1 atau 2 hadits saja karena setiap hadits menjadi sangat panjang bila dengan riwayat sanad, hukum sanad, dan mustanadnya. Bayangkan betapa sulitnya perluasan ilmu saat itu, mereka tak ada surat kabar, tak ada telepon, tak ada internet, bahkan barangkali pos jasa surat pun belum ada, tak ada pula percetakan buku, fotocopy atau buku yang diperjualbelikan. Penyebaran ilmu dimasa itu adalah dengan ucapan dari guru kepada muridnya (talaqqiy), dan saat itu buku hanyalah 1% saja atau kurang dibanding ilmu yang ada pada mereka. Lalu murid mereka mungkin tak mampu menghafal hadits seperti gurunya, namun paling tidak ia melihat tingkah laku gurunya, dan mereka itu adalah kaum shalihin, suci dari kejahatan syariah, karena di masa itu seorang yang menyeleweng dari syariah akan segera diketahui karena banyaknya ulama. Oleh sebab itu sanad guru jauh lebih kuat daripada pedoman buku, karena guru itu berjumpa dengan gurunya, melihat gurunya, menyaksikan ibadahnya, sebagaimana ibadah yang tertulis di buku, mereka tak hanya membaca, tapi melihat langsung dari gurunya, maka selayaknya kita tidak berguru kepada sembarang guru, kita mesti selektif dalam mencari guru, karena bila gurumu salah maka ibadahmu salah pula. Maka hendaknya kita memilih guru yang mempunyai sanad silsilah guru, yaitu ia mempunyai riwayat guru guru yang bersambung hingga Rasul saw.

Hingga kini kita ahlussunnah waljamaah lebih berpegang kepada silsilah guru daripada buku buku, walaupun kita masih merujuk pada buku dan kitab, namun kita tak berpedoman penuh pada buku semata, kita berpedoman kepada guru guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw, ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga nabi saw. Maka bila misalnya kita menemukan ucapan Imam Syafii, dan Imam Syafii tak sebutkan dalilnya, apakah kita mendustakannya?, cukuplah sosok Imam Syafii yang demikian mulia dan tinggi pemahaman ilmu syariahnya, lalu ucapan fatwa fatwanya itu diteliti dan dilewati oleh ratusan murid2nya dan ratusan Imam sesudah beliau, maka itu sebagai dalil atas jawabannya bahwa ia mustahil mengada ada dan membuat buat hukum semaunya.

Maka muncullah dimasa kini pendapat pendapat dari beberapa saudara kita yang membaca satu dua buku, lalu berfatwa bahwa ucapan Imam Syafii Dhoif, ucapan Imam hakim dhoif, hadits ini munkar, hadits itu palsu, hadits ini batil, hadits itu mardud, atau berfatwa dengan semaunya dan fatwa fatwa mereka itu tak ada para Imam dan Muhaddits yang menelusurinya sebagaimana Imam imam terdahulu yang bila fatwanya salah maka sudah diluruskan oleh imam imam berikutnya. Sebagaimana berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu baker digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433), berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”, berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433)

Semakin dangkal ilmu seseorang, maka tentunya ia semakin mudah berfatwa dan menghukumi, semakin ahli dan tingginya ilmu seseorang, maka semakin ia berhati hati dalam berfatwa dan tidak ceroboh dalam menghukumi. Maka fahamlah kita, bahwa mereka mereka yang segera menafikan / menghapus hadits dhoif maka mereka itulah yang dangkal pemahaman haditsnya, mereka tak tahu mana hadits dhoif yang palsu dan mana hadits dhoif yang masih tsiqah untuk diamalkan, contohnya hadits dhoif yang periwayatnya maqthu’ (terputus), maka dihukumi dhoif, tapi makna haditsnya misalnya keutamaan suatu amal, maka para Muhaddits akan melihat para perawinya, bila para perawinya orang orang yang shahih, tsiqah, apalagi ulama hadits, maka hadits itu diterima walau tetap dhoif, namun boleh diamalkan karena perawinya orang orang terpercaya, Cuma satu saja yang hilang, dan yang lainnya diakui kejujurannya, maka mustahil mereka dusta atas hadits Rasul saw, namun tetap dihukumi dhoif, dan masih banyak lagi contoh contoh lainnya, Masya Allah dari gelapnya kebodohan.. sebagaimana ucapan para ulama salaf : “dalam kebodohan itu adalah kematian sebelum kematian, dan tubuh mereka telah terkubur (oleh dosa dan kebodohan) sebelum dikuburkan”.

Walillahittaufiq

Sumber: Kenalilah-Akidahmu, Munzir Al-Musawa, www.majelisrasulullah.org

Minggu, 02 Januari 2011

BID'AH

Dalam kamus Al-Munjid disebutkan : Bid'ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.
Rasulullah saw telah bersabda mengenai bid'ah:
"Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada siapa pun yang dapat menyesatkannya. dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tiada siapa pun dapat memberinya hidayah. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah KItabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah muhdatsat (hal-hal baru), dan semua mudats (yang baru) adalah bid'ah dan Kullu bid'atin Dholaalah (semua bid'ah adalah sesat) dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka." (HR Nasa'i)
"Berhati-hatilah kalian terhadap muhdats (hal-hal baru), karena sesungguhnya semua muhdats (yang baru) itu bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Para ulama menjelaskan bahwa dalam hadis Kullu bid'atin dholalah terdapat kalimat yang tidak diucapkan oleh Nabi saw, namun telah dipahami oleh para sahabat. Kalimat itu terletak setelah kata bid'ah dan bunyinya adalah "yang bertentangan dengan syariat" . Coba anda perhatikan kalimat yang terletak di dalam tanda kurung berikut: "Semua bid'ah (yang bertentangan dengan syariat) adlah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka." Para ulama menyimpulkan demikian berdsarkan sabda Rasulullah saw berikut:

"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak." (HR Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak terdapat di dalam agama, maka ia tertolak." (HR Bukhori dan Abu Dawud)
Rasulullah saw dalam sabdanya di atas menambahkan kalimat, "Yang tidak bersumber dari agama," dan kalimat "Yang tidak terdapat dalam agama." Akan berbeda maknanya bila kalimat tersebut dihilangkan. Coba perhatikan:
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak."
Bandingkan dengan kalimat berikut:
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam maslaah (agama) kami ii, maka dia tertolak."
jika kita perhatikan dengan baik, kedua kalimat di atas sangat berbeda. Kalimat pertama memberitahukan bahwa hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama saja yang ditolak sedangkan kalimat kedua menyatakan bahwa semua yang baru tertolak.
Kini jelaskah bahwa hanya hal-hal baru saja yang tidak bersumber dari agama sajalah yang sesat, dan selama hal baru tersebut bersuumber dari Al-Quran dan hadis maka dia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah, dan diterima oleh Rasulullah saw.

KArena dalil-dalil di atas Imam Syafi'i berpendapat bahwa bidah terbagi menajdi dua, yaitu bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah sayyi'ah (buruk) atau bid'ah mahmudah (yang terpuji) dan bid'ah madzmumah (yang tercela). Rabi' ra menceritakan bahwa Imam Syafii rhm berkata:
'Hal-hal baru (muhdatsaat) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan Al_Quran, Sunah, Atsar maupun Ijma. Inilah bid'ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan Al_Quran, Sunah, Atsar maupn Ijma'. Hal baru ini merupakan bid'ah yang tidak tercela.
Sedangkan Imam an-Nawawi ra beliau berkata: Para ulama menyatakan bahwa bid'ah itu terbagi menjadi lima, yaitu bid'ah wajib, bid'ah mandhub (sunah), bid'ah haram, bid'ah makruh, dan bid'ah mubah. Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

Dengan demikian, siapapun muslimin yang menggagas perbuatan baru yang baik dan tidak bertentangan dengan agama dan kemudian perbuatan tersebut diamalkan (orang lain), maka dia akan memperoleh pahala orang-orang yang mengamalkannya. Demikian juga seabliknya. Sebagaimana sabda beliau saw:

“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah,dan menjelaskan pula akan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Diantara yang mengawali perbuatan bid’ah hasanah adalah sayyidina Umar dan Khalifah Abubakar Ash-Shiddiq rhum. Berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah ) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Selain contoh di atas lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.

Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Demikian mudah-mudahan dapat dipahami dengan kejernihan hati.

Sumber:
  1. Mana Dalilnya I, Novel bin Muhammad Alaydrus, Taman Ilmu, Surakarta, 2005
  2. Kenalilah Akidahmu, Munzir Al-Musawa, www.majelisrasulullah.org

KAROMAH PARA WALI

Kita harus meyakini bahwa karomah para wali itu benar. Maksudnya, dibolehkan dan terjadi pada saat mereka hidup dan setelah mereka mati. Karomah itu bermuara pada kekuasaan Allah SWT dan kekuasaan-Nya layak untuk itu. Adapun dalil atas terjadinya karomah ada dua perkara:
Pertama, yaitu yang disampaikan oleh allah SWT dalam al-Quran Al-Aziz, seperti kisah Maryam. Allah SWT berfirman: Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki yang tak terhitung kepada siapa yang Dia kehendaki. (Ali Imran, 3: 37)
Para ahli tafsir mengatakan; saat itu di sisinya ada buah-buahan musim dingin pada musim panas, dan buah-buhan musim panas pada musim dingin. Itu sampai kepadanya melalui cara yang tidak biasa, dan itulah kemuliaan (karomah) yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.
Dalil lainnya adalah kisah para penghuni gua. Allah SWT menyebutkan kisah ini dalam kitab-Nya, bahwasanya mereka tidur selama tigaratus sembilan tahun tanpa menyantap makanan tidak pula minuman, dan bahwasanya Allah SWT yang mengatur sendiri dengan membalikkan mereka ke kanan dan ke kiri tanpa sebab apa pun, agar badan mereka tidak sakit. Saat matahari terbit dan terbenam, Allah menajdikannya tidak mengenai tempat keberadaan mereka untuk menjaga mereka dari panas matahari yang menyakiti mereka.
Di antara yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran juga tentang karomah Khidir, karomah Dzul Qarnain dan karomahAshif bin Barkhiya yang memiliki ilmu dari kitab.
Kedua, yang diriwayatkan secara mutawatir tentang karomah para sahabat, generasi tabiin, dan orang-orang setelah mereka hingga sekarang ini, yang memenuhi berbagai penjuru, dan dibawa mengembara oleh para pengembara. Bukhari meriwayatkan dalam bukunya Ash-Shahiih bahwa sayyidina Khubaib makan buah yang ada bukan pada musimnya, yaitu saat dia menjadi tawanan di Mekah dengan kondisi terikat rantai besi, dan padahal Mekah pada saat itu tidak ada buah. Ini tidak lain meupakan rezeki yang dianugerahkan Allah kepadanya, dan ini merupakan karomahnya.
Bukhori juga meriwayatkan bahwa Sayidina Ashim bin Tsabit ra ketika terbunuh kaum musyrikin hendak mengambil sepotong dari jasadnya. Namun kemudian Allah mengutus kepadanya seperti naungan dari belakang, yaitu sekawanan lebah atau lalat kerbau, lalu melindunginya dari kaum musyrikin. Akhirnya mereka tidak mampu mengusiknya sama sekali. Ini merupakan karomah Ashim ra setelah dia wafat.
Dari Anas ra bahwasanya dia mengatakan : Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisyr bersama Rasulullah saw pada malam gelap gulita. keduanya berbincang di tempat beliau hingga begitu keduanya keluar, tongkat salah seorang dari keduanya menyinari mereka berdua sehingga keduanya dapat berjalan di bawah pancaran sinarnya. Begitu keduanya berpisah jalan, tongkat masing-masing dari keduanya menyinarinya hingga dapat berjalan di bawah pancaran sinarnya.
Dan lain-lainnya dari karomah para sahabat rodhiyallahu anhum ajma'in.
Karomah para wali cukup banyak dan tak terhitung jumlahnya serta tidak mungkin dapat dipungkiri lantaran keseluruhannya diriwayatkan secara mutawatir. Di antara mereka ada yang masuk ke dalam kobaran api namun tidak berpengaruh kepadanya, di antara mereka ada yang melalui tangannya orang yang mati dapat hidup kembali, di antara mereka ada yang memiliki kekuatan fisik, di antara mereka ada yang berjalan di udara dan air, di antara mereka ada yang dipatuhi oleh jin, dan karomah lainnya yang diriwayatkan secara mutawatir secara pasti tanpa ada keraguan padanya tidak pula perlu diperdebatkan.

Selasa, 28 Desember 2010

ILMU TASAWUF

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui tata cara meniti jalan pengabdian kepada Raja seluruh raja. Atau tasawuf adalah penjernihan batin dari berbagai kenistaan dan menghiasinya dengan berbagai macam keutamaan. Dasarnya adalah Al-Quran dan Sunnah. Imam Junaid bin Muhammad Al-Baghdady ra mengatakan: "Ilmu kita ini terikat denga Al-Quran dan Sunnah. Siapa yang tidak hafal Al-Quran namun dia mencari hadis, maka dia tidak mendapatkan bagian dari ilmu ini. Secara global dapat dikatakan bahwa tasawuf awalnya adalah ilmu, pertengahannya amal, dan akhirnya adalah anugerah, buahnya adalah pencapaian ilmu ladunni yang dilimpahkan oleh Allah ke dalam hati siapa pun yang dikehendaki-Nya di antara para wali-Nya. Ini berdasarkan firman Allah SWT: Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah pun mengajarimu. (Al-Baqoroh, 2: 282). Juga berdasarkan sabda Nabi saw: "Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu tentang apa yang tidak diketahuinya."

Dalam sebuah kajian di kota Solo, Jawa tengah, Habib Umar bin Muhammad bin salim bin hafidz telah menjelaskan sejarah terbentuknya thariqah tersebut. Berikut saduran ceramah ilmiah beliau:
Jika berbicara tentang thariqoh berarti kita sedang membicarakan inti sari dan ruh Islam serta tujuan akhir seorang muslim di dalam hubungannya dengan Allah SWT.
Sebelum membahas lebih jauh permasalahan ini, pertama-tama kita harus mengetahui bahwa wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw berisi hukum-hukum yang berhubungan dengan jasmani dan hukum-hukum yang berhubungan dengan permasalahan hati; bagaimana kondisi hatinya terhadap Allah di saat dia beramal.
Hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan anggota tubuh ini selanjutnya dikenal dengan nama FIQIH atau fiqhuzh zhahir. Sedangkan hukum-hukum yang berhubungan dengan sifat-sifat hati, selanjutnya disebut fiqhul bathin, yang oleh sebagian besar umat Islam dikenal dengan nama tasawuf.
Ayat-ayat yang membahas perbuatan anggota tubuh melahirkan beberapa madzhab dalam ilmu fiqh, sedangkan ayat-ayat yang membahas berbagai permasalahan hati serta metode penyucian hati, melahirkan sejumlah thariqah dalam tasawuf.
Sebenarnya dalil atau landasan pendirian madzhab dan thariqah (tasawuf) tersebut sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw.
Pada saat itu, para sahabat menerima seruan dakwah Rasulullah saw dengan hati yang suci dari gejolak nafsu, bersih dari berbagai keinginan duniawi, serta kosong dari tujuan-tujuan yang tidak benar dan berbagai sifat tercela.
setiap saat mereka berusaha memperkuat pondasi tauhid yang terdapat di dalam hatinya dengan mengerjakan berbagai ibadah, seperti sholat, doa dan ebrbagai amal shaleh lain yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Kita pun menyaksikan bagaimana mereka berijtihad di hadapan Rasulullah saw tentang sebuah persoalan dan Rasul membenarkan kedua ijtihad tersebut. Kita juga melihat, ada sahabat yang menajdikan puasa sunah sebagai ibadah pokoknya, ada pula yang menjadikan shalat malam sebagai ibadah pokoknya dan ada pula yang berlama-lama ketika sujud dengan memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah saw diberbagai kesempatan sebagai ibadah pokoknya. Kondisi-kondisi semacam inilah yang menjadi landasan munculnya berbagai madzhab dalam fiqih dan thariqah dalam tasawuf.
Setelah agama Allah (Islam) tersebar luas di bumi Allah, sebagaimana telah dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka tersebar pula ilmu-ilmu fiqh yang menjelaskan berbagai hukum zhahir dan ilmu-ilmu tasawuf yang menjelaskan metode mengolah hati menjadi ihsan, yaitu senantiasa memperhatikan bagaimana hubungan hati dengan Allah yang Maha Penyayang dan Maha Mulia. dalam kondisi semacam ini di tengah-tengah masyarakat tumbuh berbagai madzhab dan thariqah tersebut.

DALAM AQIDAH, IKUTILAH IMAM-IMAM BESAR

Al-Imam Al-'Allaamah Al-Habib Abdullah bin Al-Haddad berkata:
Seyogyanya setiap mukmin memelihara kelurusan aqidahnya dengan mengikuti petunjuk aqidah yang telah disusun oleh salah seorang di antara imam-imam besar yang telah disepakati keagungan dan kedalaman ilmu mereka. Pada hematku, tidak seorang pun hendak melaksanakan hal tersebut akan menjumpai kumpulan aqidah yang luas liputannya, jelas jangkauannya serta terhindar dari berbagai keraguan, sebaik yang dapat dijumpainya pada kumpulan aqidah Imam Al-Ghazali (radhiyallau 'anhu) yang diuraikannya dalam kitab Al-Ihya pasal pertama dari Bab Qawaid al-Aqaid. Perhatikanlah itu baik-baik. Dan bila masih ingin tambahan, bacalah dalam buku Ihya tersebut dalam Ar-risalah al-Qudsiyah yang diuraikannya di pasal ketiga. Dan jangan hendaknya Anda memasuki Ilmul Kalam (Teologi) secara amat mendalam, jangan pula mencoba ikut dalam perdebatan-perdebatannya walaupun dengan alasan mencari kepastian dalam makrifat tentang hal itu. Bagaimanapun Anda tidak akan meraih ketenangan hati dengan ilmu ini.
Sebaiknya bila Anda ingin memperoleh kepastian dalam hal makrifat, mantapkanlah diri Anda dengan ber-suluk (melintasi jalan keruhanian melalui ilmu tasawuf) dengan cara yang benar, yakni:
  • Bersungguh-sungguh melaksanakan takwa secara lahir dan batin.
  • Mempelajari ayat-ayat Al-Quran dan sabda-sabda Nabi SAW
  • Merenungkan kebesaran isi lelangit dan bumi. Tujuannya ialah memperdalam kesadaran, memperindah watak kejiwaan serta mengurangi kepekatan hati dengan berbagai latihan yang baik.
  • Demikian pula usaha mengkilapkan cermin kalbu dengan terus melaksanakan zikir dan fikir serta berpaling dari segala yang dapat menghalangi konsentrasi demi tercapainya tujuan.

Inilah jalan keberhasilan yang bila menempuhnya Anda akan menemukan apa yang dicari dan meraih segala idaman hati.

Kaum sufi, dengan penuh kesabaran, berjuang memerangi nafsu mereka sendiri, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan riyadhah (latihan-latihan kejiwaan) terhadapnya serta menyapihnya dari berbagai adat kebiasaannya, semata-mata karena menyadari hal itu merupakan keharusan yang tak terelakkan demi mencapai kesempurnaan makrifat. Sedangkan kesempurnaan makrifat merupakan keharusan demi meraih maqam al-'ubudiyah (kedudukan pengabdian) yang merupakan tujuan kaum 'arif dan idaman kaum muhaqqiq. Semoga ridha Allah dilimpahkan atas mereka semuanya.

MELURUSKAN AQIDAH

Al-Imam Al-'Allaamah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata:
Hendaknya Anda selalu membaikkan dan meluruskan aqidah dengan mengikuti kelompok yang selamat, yang dikenal diantara berbagai kelompok Islam sebagai ahlus sunnah wal jama'ah, atau mereka yang benar-benar berpegang teguh kepada teladan Rasulullah SAW serta para sahabatnya. Tentunya bila Anda dengan pemahaman yang lurus, dalam hati nurani yang sadar, mengamati nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang mengandung berbagai ilmu keimanan serta sejumlah riwayat hidup para salaf saleh, sahabat-sahabat Nabi SAW dan pengikut-pengikut mereka, niscaya akan Anda ketahui dan yakini bahwa kebenaran bersama kelompok yang diberi nama "Asy'ariyah", yakni mereka yang dinisbahkan kepada AS-Syekh Abul Hasan Al-Asy'ari (wafat 324 H). Beliaulah yang telah menyusun kaidah-kaidah tentang aqidah ahlul haq (para pengikut kebenaran) serta mencatat dalil-dalilnya. Yakni aqidah seperti yang telah disepakati oleh para sahabat dan tabi'in serta aqidah ahlul haq di setiap tempat dan zaman dan aqidah sebagian besar ahli tasawuf, seperti diungkapkan oleh Abul Qasim Al-Qusyairi pada awal risalah yang disusunnya. Dan itulah pula aqidah kami (Imamul Haddad) serta kelompok kami dari kalangan Ahlul-Bait yang dikenal dengan kaum al-Husaini (keturunan Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW) dan yang dikenal juga sebagai keluarga Al-Ba'alwi (atau keluarga Alawiyin). Itu pulalah aqidah para leluhur kami, semenjak Rasulullah SAW sampai masa kita sekarang. datuk keluarga Alawiyin tersebut di atas, yakni Al-Imam Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Imam ja'far As-Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir (radiyallahu 'anhum), ketika menyaksikan timbulnya berbagai macam bid'ah di Irak, negeri asalnya, serta berkecamuknya hawa nafsu dan timbulnya pertentangan sengit dalam paham masing-masing kelompok, beliau segera mengambil keputusan untuk berhijrah dari sana. Beliau pun berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sambil berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu agama sehingga akhirnya mencapai negeri Hadramaut dan berdiam di sana sampai akhir hayatnya.
Sejak itu Allah SWT memberkahi keturunannya sehingga amat banyak dari mereka yang dikenal sebagai 'alim, abid, wali dan arif. Mereka itu sepenuhnya selamat dari berbagai aliran menyeleweng dan hawa nafsu menyesatkan yang bahkan telah menggelincirkan sebagian dari kalangan Ahlul-Bait di negeri-negeri lainnya. Hal itu jelas merupakan keberkahan niat suci Imam Al-Muhajir tersebut yang lari dengan agamanya dari tempat-tempat fitnah (kerusuhan dan kekacauan). Semoga Allah SWT memberinya - atas nama kami - sebaik-baik balasan yang diterima oleh seorang ayah dari putra-putranya, meninggikan derajatnya bersama para leluhurnya yang mulia di surga 'illiyyin serta mengikutsertakan kita dengan mereka dalam kandungan kebaikan dan keselamatan, serta tetap pada jalan mereka yang terjauhkan dari segala fitnah dan cobaan. Sesungguhnya Dialah yang paling Pengasih di antara segenap pengasih.

TETAP BERSAMA KOMUNITAS KAUM MUSLIMIN DAN MENGIKUTI SALAFUS SALEH

Ketahuilah, bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan ketika terjadi perselisihan pendapat agar kita tetap bersama golongan yang terbanyak, yaitu mayoritas kaum muslimin, dan beliau mengabarkan bahwa umatnya terhindar dari persatuan di atas kesesatan atau kesalahan dalam agama. Beliau telah bersabda: "Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan. jika kalian melihat perselisihan, maka kalian harus tetap bersama golongan yang terbanyak." (HR. Ibn Majah)
Al-'Allamah As-Sindi berkata dalam penjelasannya tentang kalimat as-sawadul a'zham "Artinya komunitas yang banyak, sebab kesepakatan mereka lebih dekat kepada ijma." Imam As-Suyuthi berkata: "Artinya kelompok manusia dan mayoritas mereka yang bersatu di atas jalan yang lurus, dan hadis tersebut menunjukkan selayaknya mengamalkan pendapat mayoritas."
Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak menyatukan umatku di atas kesesatan selama-lamanya, dan tangan Allah bersama jama'ah. Maka ikutilah golongan yang terbanyak. Siapa yang menyimpang, dia akan menyimpang ke dalam neraka." (HR. At-Turmudzi , Ath-Thabrani, Al-Hakim) Demikian pula sabda beliau: "Aku meminta kepada Tuhanku semoga umatku tidak bersatu di atas kesesatan. Lalu Dia memberikannya kepadaku." (HR. Ahmad)
Para ulama mengatakan: Al-hamdulillah golongan Ahlussunnah dari sejak masa pertama sampai hari ini merupakan golongan terbanyak. Maka dengan demikian benarlah bahwa mereka adalah golongan yang selamat yang tetap berpegang teguh dengan Al-Quran, sunnah dan apa yang dipegang teguh oleh para pendahulu umat dari golongan sahabat, tabi'in dan para imam mujtahid yang terkemuka. Kepadanya isyarat Rasulullah SAW dalam sabdanya: "Sesungguhnya Bani Israel telah terpecah menajdi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yang mengikuti jejakku dan para sahabatku." (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibn Majah, Ahmad)

Senin, 27 Desember 2010

SADAH BA 'ALAWI

Sadah Baa 'Alawi adalah komunitas yang terdiri dari orang-orang pilihan keluarga (Ahli Bait) Nabi SAW, mereka tinggal di Hadhramaut Yaman sejak akhir abad ketiga hijriyah, nasab mereka merujuk kepada Imam Alawi ibnu Imam Ubaidillah, ibnu Imam Al-Muhajir ilallah Ahmad ibnu Imam Isa ibnu Imam ahmad ibnu Imam Ali Al-Uraidhiy ibnu Imam Ja'far Shodiq ibnu Imam Muhammad al-Baqir ibnu Imam Zainul Abidin Ali ibnu Imam Husain as-Sibthi ra putra Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Rasulillah saw. Semoga Allah SWT meridhoi mereka semua.
Sadah yang mulia itu adalah kaum terdidik, aktif, dan bijak. Dipelopori oleh hijrahnya Imam Ahmad bin Imam Isa ke Hadhramaut, Yaman pada tahun 317 Hijriyah, yang karenanya ia digelari Imam Al-Muhajir--. Ia korbankan hartanya di jalan Allah dalam jumlah yang tidak sedikit dan berusaha mengembalikan umat manusia ke jalan Rasulullah saw. Beberapa lama setelah Al-Muhajir wafat, keturunannya pindah ke kota Tarim. Mereka menetap di sana pada tahun 521 Hijriyah. Keturunan Al-Muhajir pertama yang mendiami kota ini adalah al-Imam Ali bin Alwi Kholi Qosam dan saudaranya salim, serta mereka yang segenerasi dengan keduanya dari keturunan Bashri dan Jadid yang ada pada saat itu. Maka Tarim pun menajadi tempat tinggal keturunan yang mulia ini. Lalu muncullah di sana ma'had-ma'had kebajikan dan banyak pula terdapat mesjid. Di samping itu, kota ini menjadi mulia karena terdapat jasad sejumlah sahabat mulia yang meninggal di sana, saat memerangi orang-orang murtad.

Disusunlah sebuah syair untuk mereka :
Merekalah kaum yang jika malam telah
menebarkan tirai kegelapan, kau takkan melihat
mereka tergoda oleh permadani dan
pembaringan. Namun mereka tegak bak tiang-
tiang mihrab, salat, ruku dan sujud dengan ikhlas
memuliakan-Nya. Mentadabburi ayat-ayat Quran
tak seperti mereka si lalai yang terbagi-bagi perhatiannya.
Merekalah (anak cucu) yang banyak dan baik
berkat doa kakek mereka saat perkawinan
(Fathimah dan Ali), tidakkah kau mengerti?
Rumah nubuwwah, futuwah, hidayah dan ilmu
sejak dahulu sampai hari nanti

Al-Habib Umar dalam ceramahnya pernah mengomentari syair di atas dengan mengatakan: Penulis syair ini juga mengatakan bahwa dalam keluarga Habib Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir selalu lahir orang-orang mulia sampai munculnya Imam mahdi. Beliaulah yang akan menyebarkan berbagai keutamaan, kemuliaan, dan kebesaran mereka. Mereka adalah pewaris nabi, sumber kebenaran dan futuwwah. Berkat cahaya mereka, cermin pecinta mereka menjadi bersih berkilauan. Alangkah bahagianya orang yang benar-benar cinta dan teguh dalam mengikuti langkah mereka. Allah tidak kikir untuk memberi minuman yang membuatnya dapat merasakan manisnya iman, masuk dalam lingkungan ihsan, tinggal dalam istana Allah dan memperoleh limpahan karunia Allah Maha Pemberi."

Sadah Ba 'Alawi menjadi penting dalam dunia Islam karena lewat merekalah tersebarnya Islam dan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong pada wilayah geografis yang luas. Melalui India menuju Malaysia, Burma, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, begitu pula Asia Tenggara, Pantai Timur Afrika, dan sebagainya. Para sadah Ba 'Alawi dalam perdagangan mereka melintasi laut menuju negeri-negeri itu merupakan teladan yang sempurna dari seorang muslim yang saleh, alim dan mengamalkan ilmunya. Mereka dapat menarik hati manusia dengan akhlak dan ilmunya. Sehingga mereka merupakan gambaran nyata dari kepribadian seorang muslim yang sempurna dalam hal agama dan dunia.

Kemudian dikarenakan panjang dan terperincinya sejarah kehidupan sadah Ba 'Alawi dari masa Rasulullah saw sebagai datuk terbesar (al-abil akbar) mereka hingga kini, dan banyaknya leluhur mereka yang mencapai derajat sholihin maka mereka menamai leluhur-leluhur mereka yang saleh dengan sebut salafunash-shalih (pendahulu-pendahulu yang saleh) atau sering disingkat dengan salaf.

Semoga Allah menganugerahkan kesempurnaan peneladanan kepada mereka, mewafatkan kita dalam agama mereka, dan menghimpun kita serta para kekasih kita bersama golongan mereka. Amin ya Allah amin.

KEUTAMAAN AHLI BAIT RASULULAH SAW

Berikut adalah penjelasan beberapa riwayat terkait keutamaan-keutamaan keluarga Nabi SAW dan keistimewaan-keistimewaan mereka cukup banyak yang dalam hal ini para imam menyusun berbagai karya tulis tersendiri.
Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam R.A bahwa dia mengatakan: pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di antara kami untuk menyampaikan ceramah di tempat air yang disebut Khumm, antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji dan menyanjung Allah, menyampaikan nasihat dan peringatan, kemudian bersabda,
أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُوْلُ رَبِّي فَأُجِيْبُ، وَأَنَا تَارِكُ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ، أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ، فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّوْرُ، فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوْا بِهِ.

"Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia yang tidak lama lagi akan kedatangan utusan Tuhanku lantas aku memperkenankan, dan aku meninggalkan di antara kalian dua peninggalan berharga. Yang pertama adalah Kitab Allah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Terapkanlah Kitab Allah dan berpegang teguhlah padanya."
Beliau menganjurkan penerapan Kitab Allah dan menekankannya. Kemudian beliau bersabda,
وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي.
"Dan keluargaku. Aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku."
Hushain bertanya kepadanya: siapa saja keluarga beliau, hai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga beliau? Zaid menjawab: istri-istri beliau termasuk keluarga beliau, tetapi keluarga beliau sesungguhnya adalah mereka yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau. Siapa saja mereka? Tanya Hushain. Zaid menjawab: mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga Abbas. Hushain bertanya: mereka semua tidak diperkenankan menerima sedekah? Ya, jawabnya. Dalam lafal lain,
إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِي، أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنَ اْلآخَرِ؛ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ، وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي، لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ، فاَنْظُرُوْا كَيْفَ تَخْلُفُوْنِي فِيْهِمَا.
"Sesungguhnya aku meninggalkan di antara kalian yang jika kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain: Kitab Allah SWT, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan keturunanku keluargaku, tidaklah keduanya berpisah hingga menemuiku di telaga surga, maka perhatikan bagaimana kalian menggantikanku dalam mencintai keduanya."

Imam Syafi'i R.A mengungkapkan dalam bentuk syair:
Wahai keluarga Rasulullah, cinta kepada kalian semua
Adalah kewajiban dari Allah dalam Al-Qur'an yang diturunkan-Nya
Cukuplah agung kedudukan kalian bahwa kalian semua
Siapa yang tidak bershalawat kepada kalian maka tidak sah shalat baginya
Seorang pentahkik, semoga Allah melimpahkan manfaat melalui mereka, mengatakan: siapa yang mencermati realita dan fakta, maka dia menemukan bahwa keluarga Nabi SAW – kecuali sedikit sekali – mereka adalah yang melaksanakan tugas-tugas agama, menyeru kepada syariat pemimpin para rasul, bertakwa kepada Tuhan mereka, kalangan terpilih lantaran kesungguhan mereka, menjalin persatuan yang kokoh, "Siapa yang menyerupai bapaknya maka dia tidak dhalim," ulama mereka adalah para pemimpin umat dan tokoh terkemuka yang menyingkirkan tindak kedhaliman, maka mereka adalah keberkahan bagi umat ini, dan menyingkap berbagai kesuraman yang menyelimuti alam, maka harus ada di setiap masa kalangan dari mereka yang lantaran mereka Allah menghindarkan malapetaka dari manusia, karena mereka adalah keamanan bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang adalah keamanan bagi penduduk langit.
Habib Ali ditanya tentang sabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian dua yang berat, kitabullah dan keturunanku, yakni ahli baitku." (HR Muslim, Turmudzi, Ahmad dan Darimi dengan matan sedit berbeda) Bagaimana Nabi saw menyejajarkan ahli baitnya dengan Quran yang mulia, Firman Tuhan Alam semesta. Bagaimana hubungan keduanya?
Habib Ali ra menjawab: "Ini karena di dalam diri ahli bait terdapat sir (rahasia) Muhammad. Perhatikanlah firman allah Ta'ala berikut: Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS Al-Maidah, 5:15)
Cahaya (nur) yang dimaksud adalah Muhammad saw, sedangkan yang dimaksud dengan kitab yang menerangkan (kitabun mubin) adalah Quran. Jika kau perhatikan, kau akan melihat sir (rahasia) kemuliaan pada diri para ahli bait, dan sir itu bercampur jadi satu dengan mereka. Kami yang lemah ini dapat melihatnya, apalagi 'orang-orang besar'. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mensyukuri nikmat ini.

LARANGAN MEMBENCI DAN USAHA MENYAKITIAHLI BAIT NABI SAW

Hendaknya seorang muslim yang peduli terhadap agamanya berhati-hati agar jangan sampai membuat marah seorang pun dari keluarga Rasulullah saw, karena itu akan berdampak sangat buruk terkait agama dan akhiratnya serta dianggap telah mengusik dan menyakiti Nabinya saw. Dalam banyak hadis diriwayatkan bahwa orang yang menyakiti keluarga Nabi saw berarti dia telah menyakiti Nabi saw dan siap yang menyakiti beliau berarti dia telah menyakiti Allah, dan dia layak mendapat laknat serta azab dan masuk dalam bahaya ancaman yang tercantum dalam firman Allah SWT: Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti allah dan rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan adzab yang menghinakan bagi mereka." (Al-Ahzab, 33:57) dan firman Allah SWT: Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah. (Al-Ahzab, 33:53)
Rasulullah saw bersabda mengenai lima anggota keluarga beliau yang dikenal dengan Ashhabul Kisa ra: "Aku memerangi orang yang memerangi mereka, dan berdamai dengan orang yag berdamai dengan mereka." Dalam hadis juga dinyatakan bahwa Nabi saw bersabda: "Seandainya seseorang berada di antara Rukun dan maqam, menunaikan shalat dan puasa, kemudian dia mati dalam keadaan membenci kepada ahli bait Muhammad saw, maka dia masuk neraka." (HR Thabrani dan hakim dari hadis Ibnu Abbas ra)

Ucapan Ulama

Sayyidina asy-Syeikh al-Imam al-'allamah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dalam wasiat untuk Syeikh Ahmad Ali mAkarim mengatakan: "Janganlah memusuhi ahli bait Rasulullah saw, karena itu adalah racun yang mematikan. Memerangi mereka adalah memerangi Rasulullah saw, dan memerangi Rasulullah saw adalah memerangi yang Maha benar dan Maha Pemberi karunia. Hati-hatilah, karena semua itu merupakan kehancuran. Berlomba-lombalah dalam berbuat baik kepada mereka sesuai kemampuan. Maka Allah akan memberi petunjuk, dan Dialah yang menjaga para salihin.

KEWAJIBAN MENCINTAI & MEMULIAKAN AHLI BAIT NABI SAW

Ketahuilah, bahwa mencintai ahli bait Nabi saw dan anak keturunan beliau adalah kewajiban seluruh umat Islam. Dalam beberapa ayat Al-Quran dan sunnah Nabi saw terkandung anjuran mencintai mereka dan perintah untuk mengasihi mereka. Hal ini telah diterapkan oleh kalangan sahabat terkemuka dan generasi tabi'in serta para imam salaf yang mendapat petunjuk. Diantara ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan kewajiban mencintai mereka adalah firman Allah SWT kepada Nabi-Nya saw: Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (Asy-Syuura, 42:23) Imam Ahmad, Thabrani, dan Hakim menyampaikan bahwasanya ketika ayat ini turun, mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, siapa keluargamu yang harus kami kasihi? Beliau bersabda: "Ali, Fathimah, dan kedua anaknya." Adapun hadis-hadis yang menunjukkan kewajiban mencitai mereka cukup banyak, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthalib bahwa Nabi saw bersabda: "Ada apa dengan kaum-kaum yang begitu ada seorang dari keluargaku duduk dengan mereka maka mereka menghentikan pembicaraan mereka? Demi Allah yang jiwa di tangan-Nya, tidaklah iman masuk ke dalam hati seseorang hingga dia mencintai mereka (Ahli bait Nabi) karena Allah lantaran keluargaku."
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda: "Cintailah Allah lantaran berbagai nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kalian, cintailah aku karena cinta kepada allah, dan cintailah keluargaku lantaran cinta kepadaku."
Dari Ibnu Umar ra bahwa dia mengatakan: kata-kata terakhir yang diucapkan Nabi saw adalah, "Hendaknya kalian menggantikanku dalam keluargaku."
Thabrani dan Abu Syaikh menyampaikan bahwasanya Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT memiliki tiga kehormatan. Siapa yang menjaganya maka Allah menjaga agama dan dunianya. dan siapa yang tidak menjaganya, maka Allah tidak menjaga agama dan dunianya." Beliau ditanya: Apa tiga kehormatan itu? Beliau bersabda: "Kehormatan Islam, kehormatanku, dan kehormatan keluargaku."
Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dari pada dirinya sendiri, anak keturunanku lebih dicintainya dari pada anak keturunannya, dan ahli baitku lebih dicintainya dari pada ahlibaitnya."

Ucapan Sahabat

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra bahwa dia mengatakan: "Awasilah Muhammad saw pada keluarga beliau. Maksudnya: jagalah beliau dengan mencintai mereka, maka janganlah kalian menyakiti mereka. Abu Bakar ra mengatakan: Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, keluarga Rasulullah saw benar-benar lebih aku cintai untuk aku kasihi dari pada keluargaku."

Ucapan Ulama

Dalam kumpulan fatwa Imam al-'Allamah Khatimul Muhaqqiqin Ahmad ibnu Hjaar ra disebutkan bahwa dia ditanya: Mana yang lebih utama antara syarif (keluarga dan keturunan Nabi saw) yang bodoh dengan orang berilmu yang aktif? Mana dari keduanya yang lebih layak untuk dihormati jika sedang berkumpul? Atau bila hendak disajikan minuman kopi misalnya kepada keduanya maka mana yang lebih layak untuk diberi terlebih dahulu? Atau jika seseoranghendak mencium tangan, mana dari keduanya yang layak dicium lebih dulu?
Ibnu Hajar ra menjawab dengan perkataannya: "Pada keduanya terdapat keutamaan yang agung. Seorang syarif disebabkan dalam dirinya terdapat bagian yang mulia yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Di samping itu sebagian ulama berkata, "Keturunan Rasulullah saw tidak dapat dibandingkan dengan apa pun.' Sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya, disebabkan dapat memberi manfaat bagi orang-orang Islam dan memberi petunjuk orang-orang sesat. Maka mereka adalah penerus dan pewaris ilmui dan pengetahuan para rasul. Hendaknya setiap orang memberikan hak-hak keduanya - yakni para ulama dan syarif berupa penghormatan dan pengagungan. Sedang jika keduanya bertemu dalam suatu majelis maka seorang syarif lebih didahulukan, karena sabda saw, 'Dahulukan kabilah Quraisy, dan karena di dalamnya terdapat bagian yang mulia (Rasululah saw).
Junjungan kami al-Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali rhm berkata, "Keutamaan nasab itu dari tiga sisi, pertama, kembalinya nasab itu kepada pohon silsilah Rasulullah saw, hal ini tidak ada yang menandingi. Kedua, kembalinya nasab itu kepada para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi, shalawat dan salam Allah atas mereka. Ketiga, Kembalinya mereka kepada orang-orang saleh dan bertakwa. Alalh swt berfirman, "Dan dulu (kakek) dari keduanya adalah orang yang saleh." (Al-Kahfi, 18:82)

Seorang ulama, al-'Allamah al-Muhaqqiq ad-da'i ilallah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith ketika di tanya apakah boleh mencium tangan ahli bait Nabi saw? Maka beliau menjawab, "Iya. itu dibolehkan, bahkan selayaknya dilakukan, karena ciuman ini bernilai ibadah dan sebagai bentuk sayang kepada Al-Habib Al-A'zham saw. Allah berfirman: "Katakanlah Muhammad, "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. (asy-Syuro, 42: 23) Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi yang menurut Ibnu asakir dan Ibnu Abdil Barr hadis shahih, dari Sya'bi bahwa dia mengatakan: "Setelah Zaid bin Tsabit menshalati jenazah ibunya, baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditungganginya. Ibnu Abbas ra datang keapdanya dan hendak mengambilkan pelananya. Zaid ra berkata, 'Biarkan saja, wahai anak paman Rasulullah saw. Lalu dia berkata, 'Beginilah yang kami lakukan terhadap ulama.' Zaid MENCIUM TANGAN Ibnu Abbas ra dan berkata: 'Beginilah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga (ahli bait) Nabi kita saw." Sudah menajdi ketetapan di antara ulama hadis bahwasanya jika seorang sahabat mengatakan, "Kami diperintahkan begini." maka ini dinilai sebagai hadis marfu' (terhubung kepada Nabi saw). Demikian fatwa Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.

Sayyidina asy-Syeikh al-Imam al-'Allamah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berwasiat untuk pecintanya Syeikh Ahmad ali Makarim dengan pesan: "Berbuat baiklah terhadap ahli bait Rasulullah yang akan membawa kepada puncak kemenangan dan kebahagiaan, serta pencapaian maqam yang tertinggi. Karena berbuat baik terhadap mereka seperti berbuat baik terhadap kakek mereka yang mulia saw. Dan berbuat baik terhadap Rasulullah saw adalah keutamaan yang tak dapat diucapkan dengan lisan. Jadilah orang-orang yang mencintai dan berbuat baik terhadap mereka, serta mengambi petunjuk dari mereka. Cintailah mereka dengan sebenar-benarnya. dahulukan mereka dari kerabat yang kau cintai. Jika melihat kelakuan mereka akan menyebabkan berburuk sangka, maka bawalah prasangka itu kepada hal-hal yang baik.

Minggu, 26 Desember 2010

AHLI BAIT NABI SAW

Keterkaitan dan keterhubungan nasab dengan Rasulullah saw merupakan kebanggan yang paling besar dan paling mulia menurut orang-orang cerdik dan bijak, dan bahwasanya keluarga pokok dan cabang beliau saw adalah keluarga dan cabang yang paling mulia, lantaran nasab mereka terhubung dengan nasab beliau, dan keterkaitan kedudukan mereka dengan kedudukan beliau. Ulama rohimahullah sepakat bahwa para pemimpin dari keluarga beliau yang mulia adalah manusia terbaik dari segi unsurnya dari pihak bapak dan kakek, dan bahwasanya mereka sama dengan selain mereka terkait hukum-hukum syariat dan sanksi hukum.

Untuk menjawab sipakah yang disebut dengan ahli bait beliau berikut kami kutipkan penejlasannya dengan beragai dalil:

Ibnu Abbas ra ditanya mengenai makna firman Allah SWT: Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepada kalian sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Untuk itu Sa'id ibnu Jubair bertanya, "Kaum kerabat Muhammad saw?" (maksudnya Sa'id berpemahaman bahwa yang dimaksud dengan kata Qurbaa ialah semua kaum kerabat Nabi saw, mencakup semua orang Quraisy, baik yang beriman maupun yang kafir,) maka Ibnu Abbas menjawab, "Engkau terlalu terburu-buru dalam memahaminya, sesungguhnya Nabi saw bukanlah satu puak dari kabilah Quraisy kecuali hanya ada hubungan kekerabatan antarbeliau dengan mereka." Ibnu abbas melanjutkan bicaranya, "Kecuali jika kalian mau menghubungkan kekerabatan yang telah ada antara aku dan kalian." (HR Syaikhon) Hadis ini dijelaskan oleh Syeikh Manshur Ali Nashif dalam kitabnya At-taaj yaitu: Mereka yang diakui sebagai kerabat Nabi saw ialah orang-orang yang beriman kepadanya dari kalangan anak-anak kakek terdekatnya yaitu Abdul Muthalib. Mereka adalah Ali dan anak-anaknya, Ja'far dan anak-anaknya, Uqail dan anak-anaknya, semua adalah anak-anak abu Thalib. Termasuk pula kerabat Nabi saw Hamzah ra dan Al-Abbas ra serta para puteranya. Sedangkan Fathimah Az-Zahra ra jelas lebih utama dari mereka. Merekalah kaum kerabat Nabi saw dan ahli baitnya; semoga Allah meridhoi mereka semua.

Ketika Zaid ibnu Arqam ra meriwayatkan sabda Nabi yang berbunyi: "Dan keluargaku (ahli baitii). Aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku."ketiak menjawab pertanyaan Hushain ra, "siapa sajakah mereka itu?" Zaid ibnu Arqom menjawab: "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Uqail, keluarga Ja'far dan keluarga Abbas." Hushain bertanya kepadanya: "siapa saja keluarga beliau, hai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga beliau? Zaid menajwab: Istri-istri beliau temasuk keluarga beliau, tetapi keluarga beliau sesungguhnya adalah mereka yang tidak diperkenankan menerima zakat sepeninggal beliau.' "Siapa saja mereka?" Tanya Hushain. Zaid menjawab: Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga Abbas."

Ulama mengatakan firman-Nya, "Ahli Bait" mencakup tempat tinggal dan nasab. Dengan demikian, istri-istri beliau saw adalah ahli bait tempat tingal dan kerabat beliau adalah ahli bait nasab. Dan dari sekian banyak riwayat yang dimaksud kan adalah ahli bait nasab.

Di dalam hadis lainnya disebutkan bahwa Siti Aisyah ra menceritakan hadis berikut: "Di suatu pagi hari Nabi saw keluar memakai jubah yang bergambar pelana terbuat dari wool berwarna hitam, lalu datanglah Al-Hasan ibnu Ali, maka Nabi saw (melepaskan jubahnya) dan memasukkan Al-hasan ke dalamnya. Kemudian datang Al-Husain, beliau pun memasukkannya ke dalam jubah itu, kemudian datang Fathimah, beliau memasukkannya ke dalam jubah itu, lalu datanglah Ali, Nabi saw memasukkannya pula ke dalam jubah itu. Setelah itu beliau saw bersabda (membacakan firman-Nya): "Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kalian, hai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33). (HR Muslim dan Turmudzi)

Dalam riwayat yang diketengahkan oleh Imam turmudzi lafaznya sebagai berikut: "Ayat berikut diturunkan di rumah Ummu Salamah, yaitu firman-Nya, 'Sesungguhnya Allah bermasksud menghilangkan dosa kalian, hai ahli bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya" (Al-Ahzab: 33). Kemudian Nabi saw memanggil Fathimah, Hasan dan Husain lalu beliau menutupkan kain jubah itu kepada mereka, sedangkan Ali berada di punggung beliau yang juga ditutupi dengan kain jubah itu. Kemudian Nabi saw berdoa: 'Ya Allah, mereka adalah ahli baitku, hilangkanlah dosa mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.' Ummu Salamah berkata, 'Hai Nabi Allah, apakah aku boleh bersama mereka?' Nabi saw menjawab, 'Engkau tetap di tempatmu, engkau mendapat kebaikan."

Mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana bisa diakui sebagai ahlibait dan keturunan Nabi Muhammad padahal adalah peranakan sayyidina Ali, dan seseorang dinisbahkan kepada kakek dari pihak bapaknya bukan kakek dari pihak ibunya?" Pertanyaan seperti ini pun dahulu pernah dilontarkan oleh Khalifah HArun Ar-Rasyid kepada Musa Al-Kazhim ra sebagai dzurriyah Nabi saw dengan pertanyaannya: Bagaimana kalian mengatakan bahwa kami adalah keuturunan Rasulullah sawpadahal kalian adalah peranakan Ali? Padahal seseorang hanya dinisbahkan nasabnya kepada kakek dari pihak bapaknya bukan kakek dari pihak ibu? Al-Kazhim menajwab: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, "Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, yahya, Isa dan Ilyas." (Al-An'am, 6:84-85) Isa tidak memiliki bapak, tetapi dia digabungkan dalam keturunan para nabi dari pihak ibunya. Demikian pula kami digabungkan dalam keturunan Nabi kita Muhammad saw dari pihak ibu kami, Fathimah ra. Lebih dari itu, wahai Amirul Mukminin, turunnya ayat mubahalah dan Nabi saw tidak memanggil selain Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain ra, demikian. Kisah ini disebutkan oleh al-'Allamah Syamsuddin al-wasithiy.

Ayat mubahalah yang dimaksudkan di atas adalah ayat berikut: "Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), "Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Âli 'Imrân [3]: 61)
Para ahli tafsir mengatakan: ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain R.A. Lalu beliau memangku Husain dan menggandeng tangan Hasan, sementara Fathimah berjalan di belakang beliau dan Ali di belakang keduanya, lalu beliau berdoa,
اَللَّهمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلِي.
"Ya Allah, mereka itu adalah keluargaku."
Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa anak-anak Fathimah dan keturunan mereka disebut anak-anak beliau SAW, dan nasab mereka dinisbahkan kepada beliau dengan penisbahan yang sahih dan berguna di dunia dan akhirat.

Ulama pun sepakat bahwa di antara kekhususan beliau saw adalah bahwa cucu-cucu dari putri-putri beliau dinisbahkan nasabnya kepada beliau dengan penisbahan yang sahih. Ini berdasarkan sabda Nabi saw:

Dan dari riwayat Umar bin Khattab r.a ia mengatakan, bahawa aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap sebab (penyebab pertalian keturunan) mahupun nasab (pengikat garis keturunan) akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku, dan setiap keturunan dinisbatkan kepada pengikat keturunannya yakni ayah mereka, kecuali putera-putera Fatimah, maka sesungguhnya akulah ayah mereka dan tali pengikat keturunan mereka” (Hadis riwayat Al-Baihaqi, Al-Thabrani dll)

Juga Imam Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak mengeluarkan sebuah hadits riwayat sahabat Jabir, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bagi setiap keturunan dari seorang Ibu ada pengikat keturunannya, kecuali putera Fatimah, akulah wali mereka dan tali pengikat keturunan mereka”.

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa sayyidah Fathimah, sayyidina Ali, sayyidina Hasan dan Husain serta anak cucunya merupakan inti dari ahli bait Rasulullah saw dan paling dekat kekerabatannya dengan Rasulullah saw. Semoga Allah melimpahkan keridhoan-Nya kepada mereka. Setelah diungkapkan berbagai penejlasan di atas maka tiada celah bagi manusia untuk memungkiri bahwa Nabi saw memiliki keturunan yang nasabnya dinisbahkan kepada beliau. Berikut adalah profil singkat para ahli bait Rasulullah saw yang mulia.

Sayyidah Fathimah Az-Zahra ra

Dialah Fathimah binti Muhammad saw yang dikenal dengan julukan Az-Zahra karena kulitnya putih kemerah-merahan menampilkan cahaya yang jernih, juga dijuluki dengan nama lain, yaitu al-Batuul, karena ibadahnya yang banyak. Ibuny adalah Siti Khadijah binti Khuwailid ra. Cukup bnyak hadis-hadis yang menceritakan tentang beliau diantaranya:

Al-Miswar ibnu Makhramah ra telah menceritakan hadis berikut: Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya anak perempuanku adalah belahan jiwaku, semua hal yang meragukannya meragukanku pula, dan semua hal yang menyakitinya menyakitiku pula. (HR Khamsah)

Riwayat yang diketengahkan oleh Imam Bukhari menyebutkan seperti berikut: "Fathimah adalah belahan jiwaku, barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia membuatku marah."

Siti Aisyah ra menceritakan pula hadis berikut: "Ia pernah ditanya, siapakah orang yang paling dicintai Rasulullah saw? " Ia menajwab, "Fathimah." Ditanyakan lagi, "Dari kalangan kaum laki-laki?" Ia menajwab, "Suaminya." Sepanjang pengetahuanku dia banyak puasa dan banyak shalat." (HR Turmudzi)

Sayyidina Al-Hasan dan Al-Husain

Al-Hasan dan Al-Husain adalah putra sayyidina Ali kw dari hasil perkawinannya dengan sayyidah Fathimah ra. Al-hasan dijuluki dengan nama panggilan Abul Muhammad, ia dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 3 Hijriyah, dan wafat di Madinah karena diracun pada tahun 50 Hijriyah dalam umur 47 tahun. Al-HUsain dikenal dengan nama julukan Abu Abdullah, ia dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun 4 Hijriyah, ia gugur sebagai syuhada di padang Karbala di Iraq pada tahun 61 hijriyah dalam usia 57 tahun. Semoga Allah melimphakan keridhoan-Nya kepada keduanya. Rasulullah saw pernah bersabda tentang mereka, "Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain kedua-duanya merupakan kecintaanku dari dunia ini."

Abu Bakrah ra menceritakan hadis berikut: "Aku pernah mendengar Nabi saw bersabda di atas mimbarnya, sedangkan Al-Hasan berada di sebelahnya, sekali-kali al-Hasan memandang kepada orang-orang dan sekali-kali memandang kepada Nabi saw: "Anakku ini adalah pemimpin, mudah-mudahan Allah mendamaikan dua golongan kaum muslimin melaluinya." (HR Bukhari dan Turmudzi)

Abu Sa'id ra menceitakan hadis berikut, bahwa Nabi saw pernah bersabda: "Al-Hasan dan Al-Husain keduanya adalah penghulu para pemuda ahli surga."